kodeku

Sabtu, 14 Januari 2012


Dikau pujaan,
Hadirmu di sebuah warna
Mengkristal pada jiwa,
Masikah tertahan dari semesta mimpi ?
"Nyatakah...?" kata jiwa memendar di sekat remang

Intan atawa dedebuan, duhai kekasihku
Sebesar apapun kamu ,dan sekecil apapun jiwa.
Lumatan senyummu tak meleburkan rindu padamu
Dalam selimut munajat tak sirna dari istana kasih-Nya,

Revolusi hati beraksara putih,
Membingkai hati dalam serpihan sunyi,
Buliran tirta netra mengkristal antara sekat, rindu
Dirgantara menggurat warna pelangi menuju kaki ufuk ,
Mari kita bermanja di belahan aksara putih, berdesis lidah

Gairah 'cinta' kita membentuk awan dan mega
Sajak bernyanyi di tiap savana, sabana kasih
Mendung yang dimiliki jiwa, syair bermanikam
Kidung dalam dekapan jiwa, bias doa

Serdadu-Nya bersayap membentuk cahaya putih
Bertandang di sepertiga malam, tahta jiwa merenung

:: Lantunan Dawai Iringi Anilaku ::
Tirai tersibak akan cahaya lembut kias
membelah sudut gelap menyusup bias
mengetuk kalbu bidadari di tepian rias
mengelus pandang menari menghias
selembut senyum yang indahmu memulas.

Menyimpul manja senyum di balik cadarku
dalam hening malam meyibak mega raguku
terselimuti cahya rembulan di titian langkahku
pada alam yang menyembunyikan gemintangku

Di manakah di kau, sayang

Ajari aku denting malam syahdu menabuh
sembari tersipu di lentik jemarimu, bertasbih
cerah putri kahyalanmu mengajak bersama
pada medium rasa fi Illahi, di tepian munajat

Aksara dewi, ku untai di tepian rembulan.
rindu menjerat akan rasa, kasih dan sayang-Mu
menyibak malam bersama kita berbagi tarian
terpatri hati yang penuh rindu, akanmu dan akan-Mu,

Kala tak mampu merangkai kata seindah pujangga.
Aksaraku tak seindah syair sang penyair.
Rangkaian tak setaraf penulis.
Aksaraku gelap di aantara remang
aku hanya ingin melihat terang.

Jumat, 13 Januari 2012

Senandung dua Nurani



@@ Senandung malam di persimpangan @@




Membisu dalam hening
Tiada gelora netramu
Kobar pun raib dalam tatapan
Hingga mendekam atma di diam
Kita membisu dalam sesungging senyum
Tiada patahan kata tersemat antara rayu

Dalam syukur tiada henti tercurah
Kala mendung tlah berarak
Mengekor bias mentari
Pun hangatnya mengayam senyum
Dalam kalbu jua dalam katup
Entah terkubur nestapa jika ia (hati)
Tlah tenangkan lakunya

Undakan pijak ada pada
Padang pusara terkuak dari gelap
Melintang bebunga kamboja
Kita membisu dalam sesungging senyum
Melempar aksara sajak di balik getar dan gentar
Mengubur tingginya ancala impian dalam malam

Membisu dalam hening
Menyimak warta tersirat bayu semesta
Mungkin kita harus berpisah sebelum sua
Sebab keranda mengintip di balik jeruji waktu-Mu
Semusim kita bercumbu dengan impian mengangkasa
Di terik fajar esok mungkin kita mesti berbenah
Dari cengkraman nikmat imaji yang membungkam gerak

Sajak melintas pendaran gigir-Mu
Munajatkan tegar atma menggulung waktu-Mu
Dan tetap dalam pijakan di titian sirat-Mu...
Tuk mengitari seisi dunia
Sebelum hidup di akhiratNYA kelak

Ya Rochman...
Hanya engkaulah maha pemurah
Ya Rochim ....
Hanya engkaulah maha pengasih
Dari kerdilnya ragaku
Ya..., muhid...
Dekap Munajat dalam ijabah-MU

:::: kolaborasi 2 Nurani ::::

@@> Senandung Buat Ilalang Sunyi
@@> Sekeping Hati To Dilla

Bincang dua nurani


## Bincang Dua Diary Hati ##

:::::

Jika ini terjadi...
Tak khan pernah kutarik benang sesal
Jua tak kuputar arus bingung
Kubuka cerita
Kutulis kisah
Tanpa arah
Tak tau mengarah

Jika dan hanya jika,
Sanggup atawa tidak.
Tangkup bintang mimpimu
Dekap angan dalam sellimut malam
Bersidekap dengan angin mengelus atma

"Aku masih disini" kataku

Jika ini terjadi...
Bungkam kembali tersandar
Hanya raga...
Segumpal daging
Tertiup ruh
Menjadi hidup

Jika ingin terjadi...
Lantas bagaimana?
Kutata kesempurnaan
Dari ketidaksempurnaan
Atas kesalahan

Aku masih disini
Menanti malam lekas bergegas
Dihalte penantian rindu meranggas




Seperti malam itu
Saat ukhuwah ber- khalaqah
Menyapa bintang impian jiwa

Menyeka kesalahan diri yang tak salah
sebab semua ada dalam makhtab-Mu

Jika ini terjadi...
Masihkah engkau mengenangku
atau malah menguliti ingatmu
Jua tersisakan rasamu
mungkin tumpukan kebosanan
Yang semakin membelenggu

Jika ini terjadi...
Tenggelamkan ragaku
dipersemayaman ketenangan
Tenang saat gelombang itu belum menyerang
Agar arwah mendiangku pulas
Di tidur sementara dunia
Sebelum akhirat menjemput

Duhai sahabat...
Menitip zikir pada rembulan,
Menggurat ikrar "SAMARA" di atmosfir rasa


Sakinaah terpahat
Mawadah terenda
Wa Rahmah terpatri

Aku atawa Engkau
Bersama linangkan kristal membanjir
Menambat harap bukan pada jumawa
Tanpa-Mu tak tahu kau mengapa?
Tanpa-Mu tak tahu aku mengapa?

Lenyap dalam tatapan glap gulita

Sidekap munajab harap
Bertumpu tuk temani ragu...!

######################

~@@~
Kolaborasi Diary
Senandung Buat Ilalang Sunyi dan Sekeping Hati To Dill