Dikau pujaan,
Hadirmu di sebuah warna
Mengkristal pada jiwa,
Masikah tertahan dari semesta mimpi ?
"Nyatakah...?" kata jiwa memendar di sekat remang
Intan atawa dedebuan, duhai kekasihku
Sebesar apapun kamu ,dan sekecil apapun jiwa.
Lumatan senyummu tak meleburkan rindu padamu
Dalam selimut munajat tak sirna dari istana kasih-Nya,
Revolusi hati beraksara putih,
Membingkai hati dalam serpihan sunyi,
Buliran tirta netra mengkristal antara sekat, rindu
Dirgantara menggurat warna pelangi menuju kaki ufuk ,
Mari kita bermanja di belahan aksara putih, berdesis lidah
Gairah 'cinta' kita membentuk awan dan mega
Sajak bernyanyi di tiap savana, sabana kasih
Mendung yang dimiliki jiwa, syair bermanikam
Kidung dalam dekapan jiwa, bias doa
Serdadu-Nya bersayap membentuk cahaya putih
Bertandang di sepertiga malam, tahta jiwa merenung
:: Lantunan Dawai Iringi Anilaku ::
Hadirmu di sebuah warna
Mengkristal pada jiwa,
Masikah tertahan dari semesta mimpi ?
"Nyatakah...?" kata jiwa memendar di sekat remang
Intan atawa dedebuan, duhai kekasihku
Sebesar apapun kamu ,dan sekecil apapun jiwa.
Lumatan senyummu tak meleburkan rindu padamu
Dalam selimut munajat tak sirna dari istana kasih-Nya,
Revolusi hati beraksara putih,
Membingkai hati dalam serpihan sunyi,
Buliran tirta netra mengkristal antara sekat, rindu
Dirgantara menggurat warna pelangi menuju kaki ufuk ,
Mari kita bermanja di belahan aksara putih, berdesis lidah
Gairah 'cinta' kita membentuk awan dan mega
Sajak bernyanyi di tiap savana, sabana kasih
Mendung yang dimiliki jiwa, syair bermanikam
Kidung dalam dekapan jiwa, bias doa
Serdadu-Nya bersayap membentuk cahaya putih
Bertandang di sepertiga malam, tahta jiwa merenung
:: Lantunan Dawai Iringi Anilaku ::
HAI APA KABARMU HONGKONG
BalasHapus